Sragen - Upacara Hari Santri Nasional : Wajah Pesantren Wajah Indonesia

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Sragen - Upacara Hari Santri Nasional : Wajah Pesantren Wajah Indonesia

Berita Militer
Rabu, 23 Oktober 2019
Upacara Hari Santri Nasional : Wajah Pesantren Wajah Indonesia
Add caption


Selasa,  22 Oktober 2019 pukul 07.40 s.d 08.10 bertempat di halaman kantor Kemenag Kab.Sragen dilaksanakan Upacara dalam rangka hari Santri Nasional ke 5 tahun 2019 dengan tema "Santri Indonesaia untuk perdamaian dunia" sebagai Irup dr.Hj.Kusdinar Untung Yuni Sukowanti (Bupati Sragen) dan sebagai Danup Sdr.Rizki Maulana (Siswa MAN Sragen) yang diikuti lk 150 orang.


Hadir dalam Upacara tersebut dr.Hj.Kusdinar Untung Yuni Sukowati ( Bupati Sragen), AKBP Yimmy Kurniawan S.IK, MH,MIK (Kapolres Sragen), Kapten Cpl Petrus Catur Setiyanto (Mewakili Dandim 0725/Sragen), Ahmad Yasin, SH.,MH (Kepala Pengadilan Negeri Sragen), Lettu Saeroji (Pa Bintal Yonif Raider 408/Sbh), Drs.Irfandi ( Kabag TU Kemenag Kab.Sragen), Drs.Mahmudi,S.Ag ( Ketua MUI Kab.Sragen) , Dwi Agus Prastyo,S.STP.M.Si ( Kabag Kesra Kab.Sragen) serta Tamu undangan lain.


Dalam sambutannya Menteri Agama Republik Indonesia pada upacara Peringatan Hari Santri 2019 yang dibacakan oleh Irup mengatakan sejak Hari Santri ditetapkan pada tahun 2015, kita selalu menyelenggarakan peringatan setiap tahunnya dengan tema yang berbeda. Secara berurutan pada tahun 2016 mengusung tema Dari Pesantren untuk Indonesia", tahun 2017 "Wajah Pesantren Wajah Indonesia" , dan tahun 2018 "Bersama Santri Damailah Negeri".


Meneruskan tema tahun 2018, peringatan Hari Santri 2019 mengusung tema "Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia". Isu perdamaian diangkat berdasar fakta bahwa sejatinya pesantren adalah laboratorium perdamaian. Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam rahmatan lilalamin, Islam ramah dan moderat dalam beragama. 


" Sikap moderat dalam beragama sangat penting bagi masyarakat yang plural dan multikultural. Dengan cara seperti inilah keragaman dapat disikapi dengan bijak serta toleransi dan keadilan dapat terwujud. Semangat ajaran inilah yang dapat menginspirasi santri untuk berkontribusi merawat perdamaian dunia " ujarnya.


Kesadaran harmoni beragama dan berbangsa. Perlawanan kultural di masa penjajahan, perebutan kemerdekaan, pembentukan dasar negara, tercetusnya Resolusi Jihad 1945, hingga melawan pemberontakan PKI misalnya, tidak lepas dari peran kalangan pesantren. Sampai hari ini pun komitmen santri sebagai generasi pecinta tanah air tidak kunjung pudar. Sebab, mereka masih berpegang teguh pada kaidah hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman). (Red)